Senin, 24 Agustus 2015

KYI


(All cast are belong SM Entertainment)

Based on true story..

Couple : Yuri SNSD & Eunhyuk SJ

Happy reading~

"Ah terserah"

Yuri hampir saja mau membanting handphone nya, tapi mengingat cicilannya yang belom lunas, dia akhirnya mengurungkan niatnya.

"Eunhyuk jahat! Huhuhu" sendunya sambil mengeratkan guling dalam pelukannya. Kekasihnya itu akhir-akhir ini sulit di hubungi. Telfon tidak pernah diangkat,  sedangkan pesan chatnya cuma di baca aja.

Dia mengambil handphonenya lagi, dan men-dial angka 5, nomor sahabatnya.

"Seohyun-ie~ dia tidak menelfonku lagi.."

Sepanjang malam ia berkeluh kesah kepada sahabatnya, bercerita tanpa henti sesekali diiringi isakan. Hanya kepada Seohyun, ia bebas bercerita. Karena Seohyun satu-satunya pendengar yang baik dan selalu ngasih saran yang bagus.
.
.
.
.


Esoknya Yuri mengunjungi officetel Eunhyuk yang tak jauh dari rumahnya.

Seohyun benar, mungkin Eunhyuk sedang sibuk waktu itu, jadi tidak sempat menghubungi dirinya, pikir Yuri. Ah keterlaluan, sepertinya aku terlalu posesif, gerutunya.

Sekarang Yuri telah berada di depan pintu rumah Eunhyuk. Ditangannya kini sudah ada nasi goreng kimchi kesukaan Eunhyuk. Dia sengaja bangun jam 5 pagi untuk membuatkannya masakan istimewa.

Dia hendak mengetuk pintunya, ketika sebuah suara halus menyapanya.

"Yuri-ssi?"

Lelaki berperawakan kurus itu menghampirinya. Dandanannya rapi, seperti mau pergi ke suatu tempat. Yuri ingat pasti, itu tetangga kekasihnya.

"Ah ne~ annyeong haseyo"

"Mencari Eunhyuk? Dia sedang tak ada di rumah"

Yuri terperanjat, ini kan hari sabtu, tidak mungkin pacarnya sedang bekerja. Jangan-jangan..

"Dia kemana?" tanya Yuri berusaha tenang

"Entah, dia ngga cerita. Sudah ya"

Orang itu berlalu. Yuri masih berdiri, ia buang jauh-jauh pikiran negatifnya. Air matanya yang akan menetes, ia bendung sebisanya. Sekarang berganti menjadi senyum masam.

"Padahal sudah aku masakkan" Ia berjalan gontai, mau kembali ke rumah.

Tapi, kala itu terlintas pesan ibunya. 'Jangan bawa kembali apapun yang sudah dibawa dari rumah'. Yuri berbalik dan menggantung plastik berisi nasi goreng itu di gagang pintu.

"Baiklah~ ku tinggalkan disini saja" ia sedikit tersenyum membayangkan wajah Eunhyuk nanti yang kebingungan menemukan makanan itu di gagang pintu rumahnya. Pasti sangat lucu.
.
.
.
"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun"

Alarm pengingat membangunkan Yuri dari tidurnya. Ia bergegas ke kamar mandi dan berdandan dengan cantik. Minggu pagi ini adalah hari teristimewanya. Ia kini 21 tahun.

Di meja sarapan, sudah ada ayah dan abangnya. Ibunya datang dari dapur membawakan sarapan sekaligus teh hangat. Keluarganya biasa saja, tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun. Dan Yuri tidak peduli dengan hal itu.

"Ayo kita sarap.. aega~mau kemana? Sarapan dulu!" titah Ibu Yuri

"Sedang buru-buru eomma~ aku sarapan di jalan aja" teriak Yuri. Ia sibuk mengikat sneakers dengan buru-buru. Hari ini dia akan jalan-jalan dengan Eunhyuk seharian.

Ia bergegas mengambil kunci yang tak jauh dari situ. "Abang! Pinjem motor yah"

"Andwae, Yulyuk! Aku juga mau jalan sama Yoona! Kembalikaaaan" pekik Kwon Donghae, abang Yuri. Tepat sebelum Donghae sampai pintu, Yuri sudah starter gas duluan "Hahaha aku jalan duluuuu"

"Yaak~ jajingnae ish" umpat Donghae.
.
.
.

"Mworago?"

"Semalam dia pulang larut, terus sudah pergi lagi pagi tadi. Aku juga berpikir kenapa dia sibuk sekali akhir-akhir ini. Kau sudah mencoba telfon?" ujar Yesung, tetangga sebelah Eunhyuk.

"Aniyo. Belum."

Bodoh! Ini tidak perlu dibayangkan macam-macam. Eunhyuk bukan tipe yang--ketika pacarnya ulang tahun, ia akan pura-pura sok sibuk mempersiapkan kejutan. Selama ini, setiap Yuri ulang tahun, dia selalu memberi hadiah yang simple-simple. Ada apa dengannya?

"Oh iyaa. Semalam.."

Lamunan Yuri terhenti. Ia menunggu apa yang akan Yesung ucapkan setelah ini.

"Aku sempat menyapanya. Dia baru pulang dari suatu tempat, dan plastik yang tergantung di gagang itu, dia buang.."

"Apa?"

"Aku tidak tahu apa isinya. Yang jelas begitu ia lihat, dia langsung dibuang. Apa itu darimu?"

Yuri tidak tahu apa yang dirasakannya saat itu. Dia pun bingung apa yang harus dilakukan. Mendapat perlakuan seperti ini dari orang yang dicintainya, membuat ia seperti kehilangan segalanya. Apa Eunhyuk mau putus?

"Geurom gomawo.." Yuri bergegas meninggalkan Yesung. Ia menangis tersedu-sedu. Rencana ingin jalan seharian di taman hiburan ia tumpaskan jauh-jauh dari benaknya.

Ya, mungkin Eunhyuk sudah tidak ada rasa lagi dengannya. Yuri berniat mengubur cintanya yang dalam. Ia menekan nomor Eunhyuk, dan siap untuk mengakhiri hubungannya.

Panggilan selalu mail box. Terpaksa ia mengirim pesan suara.

"Aku ingin kita putus. Maaf, aku harus menyampaikannya seperti ini. Sampai jumpa, Lee Hyukjae."

Akhirnya dia mengatakannya. Waktunya memang sudah tepat. Dia tidak peduli meskipun ia masih sayang. Ia akan mengikhlaskannya.

Jreeeeng~

"Hamkke geotgo sipeoyo~ geudewa soneul jabgo.."

Jreeeeeng~ Jreeeeeng~ Jreeeeng~

"Bukerowo marayo oh nan geudae punnin geolyo"

Lantunan lagu yang merdu mengalihkan perhatian Yuri. Ia menghapus air matanya dan kemudian mengambil beberapa ribu won untuk diberikan ke pengamen jalanan yang berdiri dihadapannya.

"Terima kasih, nuna"

Yuri tersenyum hangat "Dimana Ibumu, kenapa tidak sekolah?"

"Ini kan hari minggu, nuna" balas anak laki-laki itu polos.

Yuri tertawa kecil menyadari kebodohannya "Ah kau benar". Ia mengambil sesuatu di tasnya. Coklat batang dua buah yang tadinya ia akan makan berdua dengan Eunhyuk, diberikannya kepada anak itu "Untukmu. Tapi janji sama nuna, harus rajin belajar"

"Benarkah? Wah asiiiik. Iya janji" anak itu tersenyum kecil. "Aku juga punya sesuatu untuk nuna" ia memberikan kaset berbentuk lama, kondisinya agak usang.

"Cita-citaku ingin jadi musisi. Ini lagu pertamaku. Semoga Nuna suka"

"Tapi... Tapi.." cekat Yuri tapi anak itu sudah berlari jauh. Ia menggaruk kepalanya "Aku tidak punya pemutar kaset"

"Ah Gomawo!!" teriaknya hampir lupa, meskipun anak itu sudah pergi jauh dan tidak mungkin mendengarnya.
.
.
.
"Terima kasih, kau memang abangku yang paling baik"

"Memangnya untuk apa?" tanya Donghae heran. Yuri baru saja pulang dari rumah dan sudah minta macam-macam. Pemutar kaset tua, dimana Donghae harus keglimpungan mencarinya.

"Memutar kaset."

"Iya tau. Kau dapat kaset ini dari mana"

"Dari seseorang"

"Lee Hyukjae?"

"..."

Dia tahu Yuri sedang tidak ingin bicara apapun tentang orang itu. Terlihat dari wajahnya yang murung ketika disebut nama itu. Mungkin mereka ada masalah. Dia tidak ingin ikut campur.

"Ah sudahlah. Sekarang kembalikan kunci motorku." pinta Donghae.

"Hihi. Maaf yaa sudah menyandera kuncimu. Soalnya kalau tidak, kau tidak mungkin mencarikannya untukku" Yuri tertawa renyah

"Memang akal-akalanmu saja"

Setelah menutup pintu kamar, Yuri menyetel kasetnya. Dia penasaran dengan lagu buatan anak tadi.

"Annyeong Yuri-ah.."

Yuri tercekat. Itu suara Eunhyuk. Debaran jantungnya terasa semakin cepat. Dia baru saja mau mematikannya, tapi tertahan oleh suara Eunhyuk dalam kaset itu.

"Jangan dimatikan. Aku tahu kau pasti marah karena aku sulit dihubungi. Mianhae, nanti akan aku ceritakan semuanya supaya kau mengerti.."

"Sekarang.. ehem dengarkan baik-baik.."

"Hujan di luar sana. Hari ini ulang tahun orang yang istimewa. Sepanjang hari aku memikirkannya. Saengil chukkahamnida"

"Bagaimana laguku? Tidak buruk bukan? Lirik dan aransemen aku sendiri yang buat. Kau suka?"

Yuri tersenyum spontan. Kesedihannya berangsur hilang, kesedihan dimana baru saja memutuskan hubungan dengan Eunhyuk.

Tunggu! Putus?

Ini tidak benar. Kita belum putus. Itu hanya emosi sesaat. Yuri menyesal tiba-tiba. Pesan suara itu, apakah Eunhyuk sudah mendengarnya?

"Semoga belum!"

Yuri mengambil sweater dan radio kecil itu. Ia berlari ke officetel Eunhyuk. Tidak peduli ketika ia menjatuhkan handphonenya di beranda rumah. Ia tidak sempat untuk mengambil itu.

"Semoga kita lebih mesra lagi. Semoga jangan sampai putus"

Yuri mempercepat langkahnya. Kaset itu masih berputar dengan baik di genggamannya. Ia takut, ia takut Eunhyuk sudah mendengarnya.

"Saranghae Kwon Yuri."

Ckiiiittt! Braaakkk!

Suara hantaman yang sangat keras mengiringi keramaian malam itu.

To be continue..

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar