Senin, 29 Juni 2015

Midnight Blues



Aku berkali-kali menekan tombol-tombol secara sembarang, tapi benda itu tak juga bekerja. Ahh rasanya ingin mengumpat, tapi ku tahan karena aku justru melihat sedikit asap muncul dari atasnya.

"Ahh, kenapa komputer ini!" dengusku kesal

Benda itu mulai overheating. Aku membuka bagian penutupnya yang kemudian mengejutkanku oleh percikan apinya. Karena api nya kecil, aku menekannya agar mati. Tapi tidak, api itu malah kian membesar. Aku sebisa mungkin mencoba untuk tidak panik.

Aku berbalik mencari benda yang bisa mengatasinya. Namun nihil.  Baru beberapa saat punggungku terasa panas. Sepertinya api itu berpindah ke punggungku. Karena kulihat api yang tadi sudah mati.



Segera ku berlari ke kamar mandi dan tanpa basa basi mulai menyiram seluruh tubuh dari atas kepala sampai kaki. Syukurlah, api itu padam dan aku basah kuyup.

Aku sekarang berada di ambang pintu bernomor 427 Setelah mengeringkan diri dan merapikan pakaianku, aku harus menghadiri kelas audit. Sebenarnya hari ini lemas sekali, tapi aku tidak punya alasan untuk tidak menghadiri kelas.

Aku segera masuk dan disambut oleh teman pria yang kusukai dari dulu...

"Mau kue?" Dia menawarkan kue tart yang masih utuh beserta pisaunya. Sepertinya dia menyuruhku memotongnya sendiri. Aku menggeleng lemah "Sedang puasa.." jawabku

Aku mencari kursi paling belakang dan merebahkan kepalaku diatas meja. Kelas begitu ramai karena ada yang ulang tahun, tapi aku malas ikutan. Aku memejamkan mataku. Mungkin orang-orang berpikir aku tertidur, tapi aku masih bisa mendengar suara-suara mereka.

"Ahh aku tidak mau! Aku kan sudah pasangan sama wulan"

"Aku juga tidak mau.."

Aku terbangun karena keributan, aku langsung berjalan ke depan menghampiri mereka.

"Biar aku saja kalo gitu" sahutku. Alih-alih mencari tahu apa yang sedang mereka bahas, aku malah mengajukan diri, mencari solusi jalan tengah. Aku memang tidak suka pertentangan. "Memangnya ngapain?" tanyaku

"Kau mau adu panco melawan Siwon?" tanya salah satu diantara mereka

Mataku tiba-tiba menjadi segar. Ku pikir aku salah dengar, tapi memang benar dia bilang adu panco bersama..

"Siwon?" aku terbelalak. Apa Choi Siwon Super Junior? aku membatin.

"Iya, Choi Siwon.."

Pandanganku teralihkan ke atas meja. Ternyata benar. Dia disana sedang melambaikan tangan, seolah menyapaku. Dengan berani, ku hampiri dia, dan pasang muka jutek, bersedia untuk duel.

"Masing-masing sudah siap? Aku mulai hitung yaa. Bersedia... siap... yak!"

Aku sengaja tidak mengeluarkan kekuatanku. Mau membiarkan Siwon menyerang terlebih dahulu. Tapi dia sama sepertiku, bersikap seolah-olah lemah. Kesempatanku untuk mengalahkannya. Dan benar! Aku berhasil menang. Dia kalah telak, tanpa menahanku sama sekali. Permainan macam apa ini? Apa dia meremehkanku.

"Yak! Ahjussi!" gertakku marah. Sebenarnya dia niat main tidak sih! Jangan karena aku seorang wanita, dia jadi mengalah.

Dia terbelalak kaget dengan panggilan itu "ahjussi?"

Dia nampak tidak suka, tapi tidak menunjukan kemarahannya. Dia menatapku dalam. Aku membalas tatapannya intens. Suasana kelas menjadi hening.

"Tolong yaa, di foto setengah badan. Biar ngga kelihatan banget pendeknya" samar-samar terdengar suara yang familiar disebelahku. Suara yang selama ini menjadi dambaanku.

"Uups maaf. Kalian silahkan lanjutkan berantemnya" pria itu tersenyum manis kemudian pergi. Aku hendak mengejarnya, tapi tertahan oleh suara Siwon.

"Mau ngapain ngejar-ngejar Kyuhyun? Urusan kita belum selesai.."

Iya pria yang tadi itu Kyuhyun. Dia menghilang cepat, bahkan saat aku belum membalas senyumannya. Aku akan menyusulnya. Bagaimana mungkin aku membiarkannya pergi dan malah berurusan dengan orang ini (baca : Siwon).

Aku mengabaikan Siwon, bergegas mengambil tas, kemudian lari keluar ruangan. Mencari Kyuhyun. Aku memikirkan beberapa kemungkinan tempat yang akan dikunjunginya. Langkahku terhenti di depan ruang latihan sampai teringat sesuatu.

"Astagfirullah. Belum solat ashar"

Aku bergegas menuju tempat wudhu. Namun baru sampai melafalkan niat wudhu, azan maghrib sudah berkumandang. Padahal waktu itu masih sore. Matahari pun belum terbenam sepenuhnya di ufuk barat. Aku menyesal sejadi-jadinya.

~~~~~

Aku disambut oleh pelukan Shindong begitu ku buka pintu ruang latihan. Entah kenapa aku membalas pelukannya, namun setelah beberapa saat malah merasakan sakit di sekujur tubuh. Aku melepasnya paksa.

"Oppa! Ini sakit! Lain kali jangan pakai baju itu kalo mau meluk" Aku baru sadar. Outfit yang dipakai Shindong berduri-duri seperti outfit di MV SFS. Aku mendengus, sedangkan Shindong hanya tertawa usil.

Senyumku mengembang saat kedua mataku bertemu pria pujaanku yang kedua. Lee Hyukjae. Dia tersenyum manis dan berjalan kearahku. Aku melompat girang.

Aku tak henti melompat-lompat sampai dia menangkapku. Dan aku digendongnya seperti gaya pengantin. "Jangan melompat entar jatuh" ucapnya lembut. Sejenak aku melupakan Kyuhyun. Mungkin aku juga tak niat untuk menemukan Kyuhyun kalo sudah bertemu Eunhyuk ^___^

Masih dalam gendongannya, ia membawaku ke suatu tempat. Di belakang ada Lee Donghae yang mengikuti dengan berlari-lari lincah seperti anak kecil. Biarlah saja. Aku abaikan dia.

Aku di rebahkan disuatu tempat dan... ia mulai membuka sweaterku. Aku mulai berpikiran yang tidak-tidak. Sebenarnya aku ingin menolak tapi aku tidak bisa. Aku merasakan Donghae juga melepas sepatu dan kaos kakiku.

Lalu Eunhyuk juga mulai melepas bajunya. Aku terbelalak. Aku baru saja mau membentak, tapi dia sudah terlanjur membungkamku duluan.

"Tukeran baju dong" katanya

Aku membatu. Jadi serba salah sudah berpikir yang tidak-tidak. Aku kemudian tersenyum dan menyanggupinya.

~~~

Aku mengarungi sungai dengan perahu getek. Air yang ku arungi keruh perlahan menjadi jernih. Aku pun tidak tahu kemana tujuanku selanjutnya. Aku hanya mengikuti arus.

Sampai pada sekolah dasar yang terletak dipinggiran sungai aku bertanya pada ibu-ibu disitu. "Mohon maaf ini dimana ya, Bu?" tanyaku sopan

"Banjarnegara.."

Bagaimana aku bisa pulang? Ah aku punya ide

"Apa Ibu punya atlas?" lumayan berhenti di depan sekolah. Pasti mereka punya.

"Nggak punya" jawab ibu itu. Tapi aku lihat beberapa anak-anak memegang atlas. Lalu aku menunjuk satu diantara mereka "Boleh aku bawa yang itu"

Meskipun ketus, Ibu itu memberikannya langsung. Aku membuka beberapa peta didalamnya. Sampai kulihat ada benua amerika yang distempel oleh cap warna merah bertuliskan "D&E Tour Done!"

Aku tersenyum tipis membacanya.

THE END



Loh kok? Tiba-tiba the end. Memang ceritanya sampai situ. Kisah ini terinspirasi dari mimpi tidur gw semalem kekeke~ Tapi nggak sepenuhnya mirip ada sedikit improvisasi. Terutama bagian Kyuhyun ngomong "silahkan dilanjut berantemnya" sama bagian tatap-tatapan sama Siwon. Aslinya ngga seintens itu kok. Sisanya real mimpi. (Bukanya kalo mimpi ngga real yaah?) Terserah deh. wkwk

Pemilihan judul midnight blues sebenernya ngga nyambung sih. Gw milih ini karena pas selesai bangun, gw langsung nyetel lagu itu. (Milih judul sesukanya) dan suasana mimpinya kan ngeblues-blues gitu. (Bahasa apaan lagi ngeblues-blues)

Tadinya ada pergolakan batin, mau kasih judul breaking dawn blues. Soalnya gw mimpi itu abis sahur, kan berarti timingnya pas fajar kan. Tapi ternyata namanya nggak nyambung dan nggak enak gitu kalo didengerin. So midnight blues aja lebih cocok.

Oppa, minjem judulnya yaa ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar