Selasa, 21 Januari 2014

Miracle in the rain

All cast are belong SM Entertainment

"Oraemaniya.."

Gadis berambut coklat lurus panjang yang duduk di hadapan Kyuhyun menyita perhatiannya sekilas. Gadis itu bergumam. Matanya nampak berkilau, memperhatikan bulir-bulir hujan yang turun deras di perpustakaan kota kala itu.

Kyuhyun menjeda bacaannya sejenak. Otaknya enggan merespon, tapi hatinya tidak. Bisikan yang amat jelas pun terlakukan "Teringat Yonghwa, heh?"
"Aniyo, masa kecil kita." ungkap gadis itu singkat.

Kyuhyun terkesiap lalu tertawa renyah. Mereka berdua memang menghabiskan masa kecil bersama.

"Kau rindu masa kecil yang mana, Seohyunnie?" Kyuhyun menutup bukunya. Tidak dilanjutkannya bacaan yang sempat tertunda tadi. Ia lebih memilih bercengkrama dengan teman masa kecilnya dulu.

Seohyun mengalihkan matanya ke Kyuhyun kemudian tersenyum hangat. "Banyak. Sangat banyak" ujarnya lembut.

"Itu tidak menjawab pertanyaanku, Seohyun. Hei kau mau kemana?" tanya Kyuhyun cepat saat dilihatnya Seohyun malah membereskan buku-buku di hadapannya.

"Aku tiba-tiba tidak mood. Mau baca ini semua dirumah saja." jawab Seohyun. Tangannya masih bergerak tidak berhenti menyatukan semua buku-buku yang terbilang tidak sedikit itu.

"Baiklah" ujar Kyuhyun. Jarinya meraba kunci mobil di kantung sweaternya dan ikut beranjak. Namun tiba-tiba Seohyun menahannya.

"Kau tinggal disini saja kalau masih ingin baca-baca. Aku bisa pulang sendiri." ucap Seohyun. Kyuhyun meraih pipi Seohyun yang menurutnya menggemaskan itu kemudian mencubitnya.

"Aww! Sakit Kyuhyun!" erang Seohyun.

"Aku juga ingin pulang kok." aku Kyuhyun. Kyuhyun meraih bukunya. Sama seperti Seohyun, ada beberapa buku menarik yang harus ia pinjam.

Setelah mendapat verifikasi peminjaman buku mereka berdua segera keluar. Hujan yang turun deras sore itu membuat mereka kesulitan berjalan ke area parkir. Meski Seohyun membawa payung, namun tetap saja mereka berdua kena basah.

Sesampainya di mobil, Kyuhyun melempar buku-buku itu ke sembarang arah bagian belakang kemudi.

"Pelan-pelan Kyuhyun. Itu milik negara." ujar Seohyun dengan nada memperingatkan. Kyuhyun meringis.

"Ada sweater di belakang. Kau pakai itu." suruh Kyuhyun sambil menyalakan mesin mobil. Jemarinya meraih persneling dan kakinya langsung menginjak gas.

"Kau ingin main hujan-hujanan ya, Seo?" tanya Kyuhyun. Kepalanya menoleh sekilas menampakkan Seohyun yang tengah kesulitan menaikkan resleting jaket dari Kyuhyun. Dilihatnya Seohyun tertawa kecil setelahnya. "Kau mengetahuinya?"

"Eumm.." gumam Kyuhyun

"Ya. Setiap hujan datang, Entah kenapa ingin berbaur bersamanya. Menyentuh butirannya, merasakan dinginnya. Seperti waktu kecil.." ucap Seohyun menerawang sepuluh tahun yang lalu.

"Dan kau akan dimarahi Joo ahjuma." potong Kyuhyun cepat.

"Itu karena kau yang mengadu pada eommaku, Kyuhyun." kata Seohyun teringat masa kelam sebab dimarahi eommanya. Kyuhyun tertawa melihat Seohyun tengah memberengut kesal.

"Haha. Mau main hujan-hujanan lagi? Aku janji tidak akan mengadu pada Joo ahjuma kali ini" jelas Kyuhyun.

"Michyeosseo. Kau pikir umur kita berapa sekarang?"

"Memangnya pakai memandang umur. Lakukan saja apa yang kau inginkan.." Kyuhyun menyeringai "Chagiaa"

Teman masa kecilnya itu kini telah dewasa. Tumbuh dan berkembang menjadi gadis yang cantik dengan karakter yang sama sekali tidak berubah. Kyuhyun amat mengenal Seohyun.

"Aniyo.."

Hujan tak berhenti turun. Masih deras sehingga menjadi musik indah di telinga Kyuhyun ketika curah itu berbenturan dengan atap mobilnya. Di suatu tempat yang sepi, ia menepikan mobilnya. Tak ada satu orang pun di tempat itu kecuali mereka berdua.

"Taman ini lama tidak dikunjungi wisatawan. Bukan karena berhantu. Tapi tidak bernilai jual karena di pinggiran kota." jelas Kyuhyun

"Lalu?"

"Lakukanlah disini.." Kyuhyun kembali menjelaskan ketika Seohyun menatapnya bingung

"Kau menolak main hujan-hujanan karena terlalu takut. Terlalu takut dilihat kekanak-kanakan oleh banyak orang. Terlalu takut disangka orang gila. Keutchi?"

Kyuhyun segera membuka pintu mobil dan berjalan ke sisi kanan mobil. Membukakkan pintu untuk Seohyun dan meraih tangannya. "Kajja. Kita bermain-main seperti waktu sepuluh tahun yang lalu"

Walau sedikit kaget, ketulusan dari mata Kyuhyun lah yang membuat Seohyun tersenyum dan berani menyanggupinya.

Zzrrrsshhh zzzrrsshh zzzrrsshhhh

Seohyun merentangkan tangannya ketika perlahan air hujan masuk ke sela-sela rambutnya, membasahi tubuhnya dalam sekejap dan seperti memberikan oksigen baru masuk ke paru-paru Seohyun.

Seohyun menangkupkan kedua telapak tangannya. Menampungkan air hujan. Terasa segar. Untuk sementara ia merasa bebas dari masalah.

Pucat. Telapak tangannya menjadi pucat, jarinya pun mengkerut karena rasa dingin. Tapi Seohyun tak peduli, ia menikmatinya.

Ia sangat berterima kasih karena Tuhan menciptakan hujan. Hujanlah yang membuat nyaman dalam lelap. Hujanlah yang membuat tanaman-tanaman tumbuh subur. Hujanlah yang membuat orang teringat akan kenangan indah.

Seohyun ingin bercengkrama dengan hujan lebih lama. Ia memejamkan matanya sejenak dan merasakan kenikmatan hujan lebih dalam.

"Jangan asik sendiri dong" sahut sebuah suara.

"Eh?"

Zzrrrsshhh

"Yakkk!! Kyuhyun-ah!" pekik Seohyun ketika Kyuhyun dengan sengaja mencipratkan air dari kubangan dengan kakinya.

"Satu kosong."

"Apanya yang satu kosong!!? Awas kau ya!"

Mereka berlari-larian ditengah hujan. Bermain-main tanpa rasa takut. Satu mengejar yang lainnya. Dari aura mereka terrefleksi dua anak kecil berumur 10 tahun. Hidup dengan keceriaan, tanpa ada masalah, dan penuh dengan canda tawa.

~Epilogue~

Seohyun meletakkan sendok buburnya. Baru suapan ketiga ia sudah tak nafsu. Tubuhnya terkena demam ringan karena hujan-hujanan dengan Kyuhyun hingga malam.

Untungnya eomma tidak memarahinya lagi. Entah apa yang Kyuhyun katakan semalam pada eommanya. Karena begitu pulang, Seohyun sudah langsung masuk kamar.

Seohyun meraih ponselnya dan mengirim pesan untuk Kyuhyun. Sekedar ucapan terima kasih.

|Kyuhyun-ah, gomawo. Bagaimana keadaanmu? Apa kau terkena demam juga?|

Send.

Tak lama, ada balasan.

|Buka jendela kamarmu!|

Seohyun beranjak. Di sibaknya gorden kamar. Dari balik jendela kamar Kyuhyun, terlihat Kyuhyun sedang menggigit termometer dan mengetik sesuatu di ponselnya.

Ya. Kamar Seohyun dan Kamar Kyuhyun berada di lantai dua dan saling berhadapan. Itu sebabnya mereka bisa lebih sering berkomunikasi.

Ponsel Seohyun tiba-tiba bergetar.

|38,1 derajat Seo|

Seohyun menengok ke jendela Kyuhyun sepintas. Kyuhyun menaikkan alis matanya. Seohyun sedikit mencibir. Suhu tubuhnya tak kalah tinggi. 38,2 derajat.

|Semoga lekas sembuh. Maafkan aku Kyuhyunie|

|Wah tidak bisa. Kau harus membayarnya|

Seohyun menoleh ke arah jendela kamar Kyuhyun. Kyuhyun menyeringai.

Babo. Seohyun mendesah keras. Ponselnya ia ketuk-ketukan pada kepalanya yang pusing. Kemudian ia mulai menulis pesan balasan.

|Baik. Kau mau apa?|

|Kau hanya perlu menjawab Ya|

|Kalau itu mudah kenapa tidak?|

Setelah itu tidak ada balasan langsung.

Satu menit.

Dua menit.

Sepuluh menit berlalu.

Seohyun merasa tidak enak hati. Jangan-jangan Kyuhyun sedang membuat daftar-daftar apa yang ia mau. Sebanyak apa daftar itu sampai menghabiskan waktu sepuluh menit. Ah tidak. Ini bahkan sudah sebelas menit.

Bunyi tanda pesan masuk menggugah lamunan Seohyun. Ia bergegas membacanya dan melihat deretan tulisan singkat di dalam sana.

|Would you be my girlfriend?|

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar