Senin, 23 Desember 2013

Obsession part II

(All cast are belong SM Entertainment)

"Yak~ kau kemana saja sih? Aku cari dari kemarin tidak muncul juga. Hosh hosh" tanya namja yang sedang berkacak pinggang di hadapan Seohyun. Dia terlihat memburu napasnya sehabis berlari-lari mengejar Seohyun di koridor sekolah tadi.

"Aku langsung pulang, Changmin ah." jawab Seohyun

"Setidaknya kau menunggu dulu, Kita kan biasa bareng" Balas Changmin. Dia dan Seohyun sudah berkawan baik semenjak SD. Selalu pulang bersama. Tidak pulang bersama sehari saja menjadi hal yang tabu. Dan kemarin itu Seohyun meninggalkannya. Dia pikir Seohyun marah tanpa sebab.

Seohyun hanya mendesis pelan. Wajahnya terlihat lelah dan dia tidak mau bicara banyak pada Changmin hari ini. "Kita bicarakan ini besok pagi saja ya. Sore ini aku langsung kursus"

"Aishh~ kenap..." Changmin tau Seohyun sedang tidak mood. Tidak ingin membuat Seohyun tambah stres, dia melanjutkan "Baiklah. Nanti malam ya?"
"Nanti malam aku belajar. Sudahlah besok pagi saja. Sampai jumpa, Changmin ah" ujar Seohyun langsung melangkahkan kakinya ke parkiran Sekolah. Supirnya telah menunggu.

Sementara Changmin masih berdiri di koridor sekolah, bergumam seorang diri "Seohyun lagi kenapa sih? Gak pernah dia kayak gini"

Setaunya Seohyun merasa stres seperti itu hanya menjelang ujian. Tapi ujian kan masih lama, pasti ada alasan lainnya, pikir Changmin. Atau jangan-jangan... karena namja?

"Tidak mungkin, Changmin ah! Kau kenal Seohyun. Namja di kehidupannya itu hanya dirimu, Hahaha." ucap Changmin pada dirinya sendiri. Dia tertawa sebentar setelah itu langsung berhenti bergumam. Toh, besok Seohyun akan memberi tahunya, untuk apa capek-capek mikir.

~~oOo~~~~~oOo~~~~~oOo~~~~~oOo~~~

"Kau tau Kyuhyun?"

Pertanyaan yang diajukan Seohyun tiba-tiba memunculkan reaksi yang kuat dalam diri Changmin. Antara kaget, kagum, cemburu, patah hati, entahlah. Baru kali ini Seohyun menyebutkan nama namja seumur hidupnya.

Dan Kyuhyun?

Itu namja populer di sekolah. Namja yang banyak fans yeojanya, bahkan sampai sekolah lain. Jangan bilang Seohyun.. Ahh masa sih Seohyun suka tipe kayak gitu, bukan yang high class kayak aku, pikir Changmin.

Seohyun membalik-balikan lembaran bukunya, seraya menggoreskan stabillo pada kalimat yang penting. Dia sepenuhnya tidak sadar bahwa Changmin saat ini sedang termangu beberapa saat.

"Memangnya ada apa dengan Kyuhyun?" tanya Changmin.

Seohyun menutup bukunya seraya menatap Changmin lekat-lekat. Bersikap agar Changmin menyimaknya setelah ini "Aku bersaing dengannya untuk peringkat satu semester ini" sahut Seohyun intens.

"Ohhh~" sebongkah kelegaan masuk ke dalam diri Changmin. Berkali-kali ia mengucapkan rasa syukur pada Tuhan dalam hatinya. Ternyata alasannya tak seburuk yang ia pikir.

"Jangan terlalu menganggap enteng, Changmin ah. Dia lawan yang berat" kata Seohyun agak sinis. Dia tak suka respon Changmin yang hanya ber-OH saja.

Changmin terkekeh pelan, Seohyun tidak tahu sebenarnya hati Changmin telah didinginkan oleh alasan tadi. "Aku yakin kau menang Seohyun ah" balasnya

"Aku juga ingin seperti itu. Makanya saat ini aku daftar kursus tambahan, memajukan jam belajar, tidur awal waktu, bangun jam 3 pagi. Semua demi itu. Rasanya harus benar-benar ekstra keras belajar."

"Oh iya, maaf ya kita jadi jarang pulang bersama" lanjut Seohyun. Ada semburat penyesalan diwajahnya. Tidak enak pada Changmin.

"Tak apa, Seohyun-ah. Kalau kau bilang dari awal, aku tetap menemanimu. Hari ini, besok dan seterusnya kita tetap pulang bareng saja. Aku janji begitu bel keluar, langsung menuju kelasmu. Gak lagi deh mampir-mampir ke kantin" Changmin nyengir geje. Hatinya terlonjak senang begitu Seohyun tersenyum di hadapannya. Senyum yang manis.

"Ne.." balas Seohyun.

~~oOo~~~~~oOo~~~~~oOo~~~~~oOo~~~

"Seohyunie~ lihat"

Seohyun menatap lembaran kertas yang berkibar-kibar di depan matanya. Skor 100 untuk kalkulus. Dan disebelah kiri lembaran itu tertulis nama Cho Kyuhyun. Sebuah kesempurnaan, namun Seohyun tidak suka itu.

"Kau dapat berapa, Seohyunie?" tanya si pemilik kertas itu

"Masih di bawah kau. Dan jangan panggil aku Seohyunie. Seohyun saja cukup" Seohyun kembali fokuskan dirinya ke buku biologi setelah diganggu oleh makhluk yang bernama Cho Kyuhyun barusan.

"Memang kenapa kalau Seohyunie? Ku pikir itu manis. Tidak ada yang pernah memanggilmu seperti itu ya?" goda Kyuhyun sambil menyeringai.

Seohyun menahan diri untuk tidak memukul namja satu itu. Entah kenapa, apapun kata yang keluar dari dalam mulut Cho Kyuhyun, apapun yang makhluk itu lakukan, Seohyun hanya ingin bisa melemparnya ke lubang tanah, menguburnya hidup-hidup dan akhirnya tidak ada lagi kesempurnaan di dunia ini.

Tunggu.. jadi dia mengakui Kyuhyun sempurna? Oh tidak akan.

Kalau bukan karena imej dan pencitraan yang baik terhadap dirinya, Seohyun bisa saja mematahkan tulang anak satu itu. Dia pernah ikut karate. Yahh, walaupun belum sampai sabuk hitam, dia sudah ada kemampuan untuk menciderai lawannya.

"Jamsimanyeo oppa. Ini untukmu" ujar sebuah suara lembut. Amat lembut.

Tiba-tiba saja, seorang gadis muncul diantara Seohyun dan Kyuhyun. Seohyun berfikir sebentar, ya itu anak kelas satu, seingatnya. Mau apa dia?

Gadis itu mengulurkan sebuah bingkisan untuk Kyuhyun. Dibelakang gadis itu juga masih ada beberapa gadis lainnya. Kini tengah terkagum-kagum atas ketampanan seorang Cho Kyuhyun.
Kyuhyun mendesah pelan, fans lagi fans lagi, batinnya.

"Kenapa kau tidak terima?" Seohyun merasa risih karena Kyuhyun hanya berdiam diri seolah tak melihat gadis itu. Atas telepati antar wanita, Seohyun jelas sangat tidak suka atas sikap tak acuh Kyuhyun.

"Memangnya harus? Itu bukan urusanmu kan?" jawab Kyuhyun sekenanya lalu beranjak dari situ. Baru maju beberapa langkah, Kyuhyun berbalik "Oh iya, lusa ulangan bahasa inggris. Jangan lupa ya, Seohyunie!" tambahnya dengan membuat slow motion pada kata "Seohyunie"nya setelah itu berlari menjauh.

"Oppa~~~!!" Gadis-gadis menjadi fansnya itu juga ikut berlari sambil menjerit-jerit mengejar Kyuhyun.

Bukkkkk!!!

Seohyun kehilangan kontrol. Tak sengaja buku biologi yang setebal kamus itu dibantingnya.

"Anak itu tak bisa dibilangin ya. Sudah kubilang jangan panggil itu!" Seohyun berdecak kesal. Amarahnya sudah sampai keubun-ubun.

Tak lama bertiup angin semilir,  membuat wajahnya berubah menjadi sendu. Diraihnya buku biologi itu perlahan, dan mulai membacanya lagi.

Tes tes

Tanpa sadar, air mata Seohyun terjatuh membasahi bukunya. Ia ingat akan kenangan beberapa tahun silam. Dan kenangan itu  merenggut seluruh fokusnya saat ini. Berkali-kali ia menyeka air matanya. Menolak air itu mengalir di kedua pipinya.

Dia mencoba baca buku itu lagi. Tak diindahkannya rasa sesak dalam dadanya. Namun sia-sia. Konsentrasinya benar-benar telah hilang, digantikan air mata yang terus menerus mendesak ingin keluar.

"Seohyun ah, gwaenchana?" seseorang mengulurkan tanggannya ke hadapan Seohyun. Seohyun menengadah ke atas. Dan tangisannya pun menjadi lebih keras...

To be continue..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar