Senin, 23 Desember 2013

Marshmallow..

(All cast are belong SM Entertainment)

"Soal yang tadi itu mudah sekali, Seohyun. Kenapa kau menolaknya?" ujar Yesung, jarinya masih memegang pinggiran cangkir kopi yang hendak ia minum "Kau bahkan membiarkan Taeyeon memperoleh poin yang seharusnya jadi milikmu"

Seohyun merunduk pasrah, batinnya menjadi semakin tertekan "Iya, aku jadi mendapat minus satu dari dosen"

"Ohh~ itukah alasan kau murung setelah kelas selesai? Ku pikir karena kau di PHP-in sama Changmin. Hihihi"

Seohyun semakin merunduk. Sementara Yesung menoleh ke arah Ryeowook kesal. Tatapan Yesung menyiratkan keseriusan. Seketika Ryeowook merasa bersalah sudah asal ceplos.

"Mianhae Seohyun-ah. Aku cuma bercanda" sesal Ryeowook. Sepertinya candaannya memang tidak lucu.

"Seohyun-ie gwaenchana?" tanya Yesung
Seohyun tersenyum manis "Tidak apa-apa, oppa". Kalaupun nanti IPnya sesuai atau tak sesuai target, ia harus menghukum dirinya juga. Ia selalu merasa krisis percaya diri.

"Masih ada UAS, Seohyun. Yakinlah bahwa kau akan mendapat nilai A." ujar Yesung membangkitkan ambisi Seohyun.

"Terima kasih oppa"

Pelayan bersama nampannya menghampiri meja mereka, menghidangkan segelas milkshake di hadapan kursi kosong di sebelah kiri Seohyun.

Yesung mengernyit "Kau pesan lagi?"

"Anni.. ini untuk Hyo, dia ingin kesini juga. Itu dia!" Seohyun membalas lambaian tangan Hyoyeon. Hyoyeon tengah kesulitan melewati banyak orang berlalu lalang. Cafe ini memang sedang penuh.

"Maaf sudah menunggu. Ini pesananku bukan?" Hyoyeon segera meneguk milkshake itu hingga tinggal setengah.

"Yakk! Gunakan sedotanmu, Hyoyeon!" ujar Ryeowook. Cissshh~ bisa-bisanya wanita minum seperti itu, mungkin itu yang dipikirnya.

"Aku sudah terlalu haus, kau tau?!!" sungut Hyoyeon. Dia nampak kelelahan. Karena uangnya yang hilang, ia harus rela mengantri di ATM center.

"Kalau kau mau meminjam dariku, kau tak akan begini"

"Tidak Seohyunie, aku terkadang suka lupa kalau sudah meminjam uang. Kalau seperti itu, kau nanti akan rugi." Hyoyeon menyeka wajahnya dengan tisu. Angin malam membuat pori-pori wajahnya melebar.

"Kau kehilangan uang berapa?" tanya Yesung simpatik

"Seratus ribu won"

"Kau sangat ceroboh, Hyo. Pertama ponsel, sekarang uang. Lain kali hati-hati" semua barang sekecil apapun, amat berharga di mata Seohyun. Ia tak sangka, Hyoyeon begitu enteng kehilangan uangnya. Sepuluh ribu won, bukan jumlah yang sedikit.

Dia bisa membeli dua puluh bungkus marshmallow dengan jumlah sebesar itu.

"Memang bukan rezekiku Seohyun. Sudahlah" jawabnya lebih enteng.

"Aku juga pernah kehilangan uang.." ungkap Yesung, yang kemudian membuat mata mereka bertiga terbelalak begitu Yesung menyebutkan nominalnya.

"DUA JUTA??!!" ulang Ryeowook tak percaya.

"Iya, bersama dua ponsel juga dan tablet"

"Apaaa?!"

Seohyun memekik dalam hati. Bukankah ia bisa membeli lebih dari empat ratus bungkus marshmallow dengan uang itu? Hidup ini benar-benar....... menyiksa.

Seohyun bahkan tidak sadar yang dipikirkannya tadi hanyalah marshmallow.

"Iya, oleh sebab itu aku tak pernah membawa uang banyak lagi. Sudah kapok"

"Kau itu kehilangan atau dirampok?" tanya Hyoyeon

"Dirampok sih, beserta kawannya 5 orang. Aku dimasukkan ke mobil dan hartaku dibawa semuanya. Lalu aku dibawa pergi, dan diturunkan di daerah Myeondong tanpa uang sepeser pun." lanjut Yesung agak menggerutu, enggan membayangkan kejadiaan naas itu.

"Dan kau masih hidup hingga sekarang, hyung?!" Ryeowook pasang tampang was-was.

"Kau tidak akan mendengar ceritaku, jika aku sudah mati. Aku benar-benar tidak bisa melawan saat itu"

"Itu lah gunanya ilmu bela diri." sahut Hyoyeon.

Seohyun menggeleng "Tidak Hyo. Kalaupun Yesung oppa jago bela diri, tidak akan bisa menumpaskan preman berbadan kekar itu. Apalagi jumlahnya berlima. Mereka tidak akan menyerang dengan tangan kosong. Mereka akan menanyakan Harta atau Nyawa? Kalau kau menjawab harta, kau selamat namun hartamu diambil. Kalau kau jawab nyawa, mereka lebih beruntung. Hartamu tetap diambil, begitu pula nyawamu. Dia akan mencincangmu, menggorok lehermu, mengulitimu, mencongkel matamu, mengambil organ dalammu, lalu menjualnya.."

"Tidak Seohyun~ itu terlalu mengerikan.." potong Ryeowook segera, wajahnya ketakutan. Sedangkan Yesung sudah tertawa geli.

"Pantas saja kau tidak bisa menjawab soal dari dosen Lee. kau kebanyakan baca novel psikopat dibanding buku pelajaran" desah Hyoyeon. Sama seperti Ryeowook, dia terlihat tak suka.

"Heheh maaf. Aku kelepasan" Seohyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Mau dengar cerita marshmallow?" Yesung mencoba menetralkan rasa tegang karena cerita psikopat Seohyun barusan.

Hey bukankah kebetulan. Memang dari tadi marshmallow terngiang-ngiang di benak Seohyun.

"Cerita anak-anak ya? Bisa dijamin, tidak bikin bosan?" tanya Ryeowook malas. Hyoyeon pun hanya acuh memainkan ponselnya. Dirinya malah sibuk membalas mentions di twitter.

Hanya Seohyun yang terlihat antusias "Sepertinya aku pernah baca. Sebuah penelitian dari mahasiswa harvard yang memberikan tes IQ pada anak-anak berupa marshmallow kan. Dan 15 tahun kemudian, baru telihat hasil yang signifikan" Seohyun menaikan alisnya.

"Tak heran kau dibilang maniak buku, Seohyun. Aku juga baca penelitian itu. Tapi bukan itu yang kumaksud. Cerita ini versi yang berbeda. Tentang...."

"Tentang apa?"

"Tentang.. eum persahabatan. Ya, persahabatan"

"Jinjja? Sepertinya menarik." Seohyun langsung menyimak begitu Yesung membuka mulut untuk bercerita.

"Begini ceritanya...
.
.
.
.
.

Desa di pinggiran kota Gyeonggi, ada 5 anak yang bersahabat. 4 lelaki dan satu perempuan. Disaat mereka sedang asyiknya bermain, mereka menyadari ada tetangga baru di desa mereka.

1 orang lelaki dewasa, dan satu anak perempuan yang sepertinya seumuran dengan mereka berlima. Anak perempuan itu cantik, namun sama sekali tidak ada senyum diwajahnya. Wajar, mungkin karena sedang berada di daerah asing.

Yang membuat mereka berlima tertarik adalah di genggamannya ada bungkusan transparan berisi marshmallow. Jumlahnya amat banyak. Apa itu akan dia habiskan sendiri?

Changmin, salah seorang dari 5 bersahabat itu, mengajak anak tetangga baru supaya bergabung dan bermain bersama. Dari kejauhan anak itu terlihat menangguk dan mengikuti Changmin.

"Ini teman-temanku. Ayo berkenalan"

Satu-satunya perempuan dalam kelompok itu maju satu langkah "Hai! Aku Song qian. Kau boleh panggil aku, Victoria"

"Aku Minho. Choi Minho"

"Aku Jonghyun"

"Aku Kyuhyun"

"Dan kau sudah tahu, aku Changmin. Nah, sekarang siapa namamu?"

Gadis itu tersipu dan berujar lembut "Aku Seohyun.."
.
.
.
.
.

"Namanya sama denganku?" interupsi Seohyun

"Apa itu masalah?" tanya Ryeowook

Seohyun menyeringis, tak enak telah memotong cerita selagi mereka semua larut didalamnya. "Maaf deh" sesalnya

"Kau boleh protes nanti. Lanjutkan Yesung ssi" ujar Hyoyeon
.
.
.
.
.
"Seohyun! Arraseo. Senang berkenalan denganmu Seohyun" ujar Minho.

"Ngomong-ngomong itu marshmallow ya? Aku suka marshmallow" Victoria menatap bungkusan di tangan Seohyun dengan penuh harap

"Eung.. kalian mau? Ambilah"

"Benarkah! Asikkkk!" Jonghyun terlihat yang paling senang. Kemudian mereka bergumul kepinggir lapangan, untuk berebutan mendapatkan marshmallow. Kecuali satu anak..

"Aku tidak suka manis" ucap Kyuhyun jujur. Dia sibuk memainkan bola dikakinya, tanpa peduli teman-temannya yang tengah asyik mencicipi lezatnya marshmallow.

"Ini enak sekali, Seohyun. Beda dari marshmallow biasa. Kau beli dimana?" Victoria berencana membelinya setelah ini.

"Kakakku yang membuatnya" jelas Seohyun.

"Kakakmu yang laki-laki itu. Dia pasti bekerja di perusahaan marshmallow" ujar Changmin sok tahu

"Bolehkah aku memesan pada kakakmu?" Victoria begitu antusias ketika Seohyun mengangguk.

"Kau sendiri kenapa tidak ikut makan, Seohyun?" tanya Minho

"Aku sudah makan banyak tadi.."

"Oh iya, ngomong-ngomong kau tidak pindah bersama orang tuamu? Dimana mereka?" Jonghyun agak berbasa-basi. Walaupun sebenarnya ingin tau juga.

"Mereka telah tiada.." jawab Seohyun.

Keheningan mulai terasa. Sebelum akhirnya Jonghyun minta maaf. Seohyun hanya menggeleng tak apa.

"Yakk! Kyuhyun ah. Kau sibuk sendiri. Bersikap ramahlah pada kawan baru hei!" pekik Changmin pada Kyuhyun yang berada di tengah lapangan.

Bukan tidak mau ramah atau bagaimana. Tapi Kyuhyun merasakan keanehan. Feeling yang begitu kuat, mengalahkan rasionalitasnya.




Keesokan harinya...

Feeling Kyuhyun terjawab. Benar saja, ke empat sahabatnya kini tengah terbaring lemah dirumah sakit. Berkali-kali Kyuhyun ditanya oleh orang tua dari sahabat mereka. Namun, entah kenapa dia malah bungkam, tak menjawab. Kyuhyun seperti terintimidasi.

Keberaniannya untuk mengungkapkan kesaksian tengah lenyap.

Sepulang dari sana, Kyuhyun segera ke rumah Seohyun. Meminta pertanggung jawaban atasnya. Dengan tak sabar, Kyuhyun mengetuk pintu rumah Seohyun.

Pintu terbuka sedikit, hanya bisa menampakkan wajah Seohyun di daun pintu "Ada apa?"

"Seohyun. Aku ingin bertemu dengan kakakmu."

"Kakakku sedang pergi kerja."

"Bolehkah aku masuk?"

"Aku tidak diizinkan menerima tamu asing"

"Tapi aku tem...baiklah. Ada yang ingin kutanyakan. Bahan apa yang ada di dalam marshmallow itu?" Walau masih 12 tahun, Kyuhyun adalah pria gentlemen. Dia bukanlah lelaki yang dengan tega menggeret tersangka langsung untuk diadili. Dia akan memberinya pertanyaan pelan-pelan.

"Marshmallow apa?"

Kyuhyun terperanjat. Apa dia salah dengar? Marshmallow apa? Pertanyaan yang bodoh. Saat terlihat sekali Seohyun sedang berkilah, pikir Kyuhyun.

"Benda manis yang kau kemarin berikan pada teman-temanku" jawab Kyuhyun

"Oh itu.."

Seohyun lantas tersenyum untuk pertama kalinya. Bukan senyum manis, namun senyum yang mencekam.

Kemudian Seohyun berkata dengan lirih, bahkan hampir tak terdengar..."Itu bukan marshmallow..."

Kyuhyun mengernyit "Lalu apa?"

"Itu benda padat yang dihancurkan, yang diberi tambahan lesitin pewarna dan biang gula" jelas Seohyun, namun tak cukup memberi kejelasan bagi Kyuhyun

"Benda padat apa?" Kyuhyun semakin tak mengerti. Dia hanya mengikuti langkah Seohyun untuk masuk kedalam.

"Aku tidak tahu namanya. Silahkan lihat sendiri, Kyuhyun" tangan Seohyun meraih gagang lemari pendingin dan membukanya dalam sekejap.

Sekujur tubuh Kyuhyun mendingin seketika. Tenaganya menguar. Dia menoleh ke Seohyun yang masih mengulas senyum dinginnya.

"Kau pasti tau namanya. Apa kau pernah melihatnya?" tanya Seohyun gembira

"Pernah...dalam buku biologi. Anatomi manusia"
.
.
.
.
.
THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar